Home > The Philosphy of LOVE

The Philosphy of LOVE

Fire-Love-Images-Background-HD-WallpaperAda dua hal yang sangat esensial dalam pergumulan eksistensi manusia yaitu pergumulan dirinya dengan sesama—baik itu sesama dalam artian sesamanya manusia maupun alam semesta (termasuk berbagai binatang dan tumbuhan)—dan dengan Realitas Yang Melampaui dirinya, baik yang ada dalam diri sendiri, maupun yang ada di luar dirinya. Kedua pergumulan tersebut ada dan terjadi karena dipeluk dalam satu ikatan yang dinamakan dengan “relasi”.

Semua yang ada di jagad raya ini, tak satu pun berada dalam dan untuk dirinya sendiri, mandiri ada tanpa adaan-adaan yang lain. Semuanya saling berelasi, justru untuk menjadi ada. Sekilas di situlah letaknya kaitan antara relasi dengan ada. Tuntaslah, memang sudah sepantasnya, hal yang hakiki dari kehidupan ini adalah RELASI. Dengan relasi inilah membuat segala sesuatu menjadi ada. Ada bukan sekedar hadir yah. Ada bisa jadi juga bersifat metafisik. Sesuatu yang mengatasi bahkan melampaui yang fisik.

Apa itu relasi? Mengapa ada relasi? Bentuk relasi macam apakah yang memungkinkan relasi antara dua kubu itu (manusia dan the otherness itu harmonis dan mencapai pijakkannya dalam kualitas yang paling dalam dan sempurna?

Dalam bentangan sejarah manusia, relasi inilah yang menjadikan kedua kubu itu terus bertemu, yaitu manusia dengan yang di luar dirinya, the otherness. Paradigma, pemahaman dan kesadaran manusia akan terus berkembang, mengalir, meluas dan mendalam untuk terus “menjadi”, justru karena adanya relasi yang mendialektik antara dirinya dengan “yang lain” itu. Dalam perjalanan sejarah tersebut, relasi manusia dengan “yang lain” selalu terus berubah. Banyak warna di sana. Ada hitam, ada putih, kadang juga terlampau banyak berkutat di wilayah abu-abu. Ada damai sekaligus juga ada suasana tegang-mencekam-bahkan berdarah-darah. Ada juga yang tak berwarna.

Di tengah perjalan tersebut, selalu saja terdapat titik-titik cerah di mana manusia menemukan kerinduannya yang paling mendasar dalam berelasi. Segala kekuatan unsur-unsur hakiki dalam diri manusia dikerahkan untuk menggapai kerinduan tersebut, entah itu di ranah intelektualitas, perasaan, intuisi, imajinasi atau pun dari segi batiniahnya. Kerinduan itu juga mengarah pada dua sumber. Sumber yang pertama, kerinduan itu mengarah pada sesuatu yang menjadi dasar adanya segala yang ADA. Dasar itulah yang dianggap sebagai “jaminan” eksistensi dirinya yang sudah terlempar dan terjerat dalam jaring-jaring relasi, di mana ia tidak bisa keluar daripadanya. Itulah Realitas Yang Melampaui dirinya, justru untuk menopang eksistensinya. Itulah Sang Ada, dalam bahasa kita adalah TUHAN.

Sumber yang kedua adalah kerinduan manusia yang terarah tepat pada situasi relasi itu sendiri. Salah satu situasi relasi yang teraba adalah situasi di mana manusia “nyaman” dengan kemanusiaannya, YAITU KEBAHAGIAAN LAHIR DAN BATHIN. Dan itu-lah kerinduan terbesar dan terdasar manusia. Salah satu bahasa yang mampu mewakili situasi tersebut adalah CINTA. Selama ada relasi di antara segala entitas kehidupan, selama itulah makna cinta begitu signifikan. Bentuk relasi itu sudah diupayakan manusia semenjak raibuan abad yang lalu untuk memperdalamnya. Hasil-hasil usahanya itu hadir terakumulasi dalam mitos-mitos, cerita-cerita kepahlawanan, ajaran-ajaran berbagai agama, dan beragam narasi-narasi filosofis. Begitu pula Sang Ada. Perkembangan pemahaman manusia akan Sang Ada sungguh membekas dan menggurat dalam sejarah manusia.

Gejala ini begitu menguniversal, apalagi untuk zaman sekarang ini. Manusia sudah sedemikian dilingkupi kebobrokan peradaban (having), sehingga manusia tercerabut dari “kenyamanan” situasi kemanusiaannya yang otentik (being/natural). Padahal, peradaban manusia sudah sangat maju di tataran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang seharusnya mendukung keterarahan pada situasi itu. Parahnya lagi, makna cinta sejati justru malah terpasung oleh mentalitas dan paradigma-paradigma buruk yang ditimbulkannya. Meskipun demikian, tetap saja manusia dipaksa harus memeras sekaligus menguras keseluruhan eksistensinya terus-menerus untuk menggapai kembali situasi “nyaman” itu dari berbagai lini kehidupannya. Karena itulah situasi cinta, di mana segala kerinduan manusia terarah kepadanya.

Di tengah situasi tak nyaman itu, ada pula kecenderungan universal manusia yang membawanya pada pengalaman akan Sang Ada. Di dalamNya, manusia sedikit demi sedikit memperoleh percikan-percikan pengalaman dicintai sekaligus bersatu di dalam cintaNya. Pembahasaan paling akhir di tataran kualitas mistik manusia menyebutkan, bahkan menyimpulkan, bahwa Sang Ada adalah Cinta. Pengalaman cinta dengan Sang Cinta (Tuhan) itu yang sangat dirindukan manusia, karena pengalaman tersebut telah secara definitif membuat “nyaman” kemanusiaannya. Maka dari itu, pengalaman itu dijadikan dasar kerinduan manusia ketika berelasi dengan “yang lain” itu. Pertanyaan yang kemudian menarik untuk diulik adalah apakah setiap kerinduan manusia itu bertemu pada titik tuju yang sama atau tidak? Apakah itu cinta, sehingga menjadi daya pemersatu di antara umat manusia dan bahkan dengan the othernsess-nya?

Sejalan dengan proses di atas, dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi secara diam–diam menyuguhkan penemuan-penemuan terbaru, khususnya mengenai fisika kuantum. Dalam sejarah, adakalanya hasil temuan para fisikawan teramat mencerahkan tetapi juga terlampau merugikan (misalnya dengan adanya Bom Atom). Inilah ilmu yang sungguh dekat dengan ketubuhan manusia. Ilmu ini begitu gigihnya meneliti dan menganalisis segala sesuatu yang ada secara fisik-material. Bahkan, para ilmuan “bersikeras” membedah elemen-elemen fundamental alam semesta ini. Setelah dibedah terus-menerus, yang kita dapat hanyalah kekosongan-yang-tidak-kosong. Di dalamnya terdapat medan energi yang sangat luas.

Dalam fisika kuantum, realitas material itu tidak bisa lagi dipandang sebatas material saja, tetapi juga sekaligus sebagai energi. Jika setiap adaan material memiliki struktur energi di dalamnya, maka pasti ada energi yang menjadi dasar alam semesta ini, termasuk dasar manusia. Itulah yang dimaksud dengan Sang Energi yang meresapi segala sesuatu yang ADA, itulah Sang Ada, itulah TUHAN.

Setelah melihat perjalanan kesadaran manusia akan pergumulan abadinya dengan “yang lain”, dengan ditandai oleh kecenderungan universal manusia akan makna cinta di dasar kerinduannya, dengan menilik pengertian sang Ada yang dialami sebagai cinta, maka ada titik perpaduan yang sama, yaitu Cinta. Semua agama di Dunia ini  takluk pada pengertian bahwa salah satu sifat tertinggi yang merupakan hakekat dasar dari Tuhan adalah MAHACINTA. Dengan demikian, jika Sang Ada yang mendasari segala sesuatu ini dialami dan dipahami sebagai cinta yang memungkinkan kesempurnaan segala relasi, maka segala sesuatu yang didasariNya itu tidak jauh dari resapan cintaNYa. Cinta menjadi makna terakhir di dalam usaha pencapaian manusia dalam mewujudkan relasi yang harmonis, dalam mewujudkan kerinduannya yang paling hakiki. Tepat di titik inilah makna kesalingterhubungan segala sesuatu itu dimungkinkan.

Adapun beberapa hal yang menjadi tujuan Sayatan ini, yaitu: pertama, Saya hendak memaparkan betapa meng-universalnya gejala kerinduan manusia terhadap Sang Ada dan terlebih pada makna cinta; Kedua, saya ingin lebih memperdalam apakah dengan energi Cinta itu bisa membuat kesuksesan setiap manusia lebih menyeluruh. ketiga, Saya akan memaparkan Ilmu fisika modern yang menjadi dasar pengetahuan riil dan kongkret akan Sang Ada yang mendasari segala sesuatu yang ADA; keempat, Saya mau menekankan bahwa begitu signifikannya makna cinta dalam kehidupan manusia, apalagi di dalam kultur yang sangat membuat tidak nyaman kemanusiaan manusia ini; kelima, Saya hendak mengulas sejauh mana makna cinta itu melekat dalam setiap ekesistensi segala sesuatu (Tuhan, Manusia, dan Alam semesta) yang berelasi itu dengan bantuan fisika modern itu. Keenam, Semoga dengan tulisan saya ini semua orang dimuka Bumi ini sadar bahwa hakekat terdalamnya adalah cinta, dan jika hal ini disadari secara menyeluruh maka kedamaian, kesejahteraan, dan perkembangan peradaban manusia akan semakin terus membaik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*